Home > Fanatisme > – I Bianconeri –

– I Bianconeri –

 


 

Nama lengkap Juventus Football Club S.p.A.
Julukan La Vecchia Signora (Nyonya Tua)
La Fidanzata d’Italia
I bianconeri (Putih – Hitam)
Le Zebre
Didirikan 1 November 1897
Stadion Stadion Olimpiade,
Torino
(Kapasitas: 27.500)
Ketua Flag of Italy.svg Giovanni Cobolli Gigli
Pelatih Flag of Italy.svg Ciro Ferrara
Liga Serie-A
2008-09 Serie-A, (P2)

Juventus Football Club (dari bahasa Latin: iuventus: youth, pengucapan [juˈvɛntus], biasa disebut sebagai Juventus dan popular dengan nama Juve, merupakan sebuah klub sepakbola professional asal Italia yang berbasis di kota Turin, Piedmont, Italia. Klub ini didirikan pada 1897 dan telah mengarungi beragam sejarah manis, dengan pengecualian kejadian musim 2006-06, di Liga Italia Serie-A. Klub ini sendiri merupakan salah satu anak perusahaan dari FIAT Group, yang saat ini dikuasai oleh keluarga Agnelli, dan membawahi perusahaan-perusahaan lain seperti Fiat Automobile, Ducati Corse (termasuk tim balap MotoGP dan WSBK Ducati), tim F1 Scuderia Ferrari, Ferrari Corse, dan Maserati Automobile.

Juventus merupakan salah satu tim tersukses dalam sejarah sepakbola Italia. Dan juga tercatat sebagai salah satu klub tersukses di dunia. Merujuk pada International Federation of Football History and Statistics, sebuah organisasi internasional yang berafiliasi pada FIFA, Juventus menjadi klub terbaik Italia di abad 20, dan menjadi klub terbaik Italia kedua di Eropa dalam waktu yang sama.

Secara keseluruhan, klub ini telah memenangi 52 kejuaraan resmi, terbanyak pertama di Italia (kedua A.C Milan yang telah mengkoleksi 47 gelar). Dengan rincian 41 di Italia, dan 11 di zona UEFA dan dunia. Sekaligus menjadikannya sebagai klub tersukses ketiga di Eropa, dan keenam di dunia, dengan gelar-gelar dunia yang diakui oleh enam organisasi konfederasi sepakbola, dan tentunya FIFA.

Klub ini menjadi klub pertama Italia dan Eropa Selatan yang berhasil memenangi gelar Piala UEFA (sekarang namanya menjadi Liga Europa). Pada 1985, Juventus menjadi satu-satunya klub di dunia yang berhasil memenangi seluruh kejuaraan piala internasional dan kejuaraan liga nasional, dan menjadi klub Eropa pertama yang mampu menguasai semua kejuaraan UEFA dalam satu musim.

Juventus juga menjadi salah satu klub sepakbola Italia dengan jumlah fans terbesar, dan diperkirakan ada 170 juta orang didunia yang juga menjadi fans Juve. Klub ini menjadi salah satu pencipta ide European Club Association, yang dulu dikenal dengan nama G-14, yang berisikan klub-klub kaya Eropa. Klub ini juga menjadi penyumbang terbanyak pemain untuk tim nasional Italia.

Sejak 2006 klub ini bermarkas di Stadio Olimpico di Torino, dimana stadion mereka yaitu Stadio delle Alpi, sedang dalam perombakan besar-besaran yang diperkirakan akan selesai pada awal musim 2011-2012, dimana nanti namanya akan berubah menjadi Juventus Arena.

1) Markas Pasukan Hitam Putih

C.so Galileo Ferraris 32, 10128 Torino

Sejak Januari 2001 Juventus Football Club bermarkas pada sebuah bangunan elegan yang beralamat di 32, Corso Galileo Ferraris, di kota Turin. Beragam perkantoran tersebar di empat lantai. Terdapat 75 pekerja yang terbagi pada bagian-bagian sebagai berikut: Administrasi – Komersial – Komunikasi – Manajemen – Perencanaan, Supervisi dan Special Project – Human Resources – Area Olah raga.

Markas Juventus juga digunakan sebagai lokasi kantor Merchandising Juventus, yang mengelola kesepakatan-kesepakatan mengenai lisensi dan juga proyek-proyek Juventus Soccer Schools. Tidak ada bagian perkantoran yang ditawarkan kepada public. Proses ticketing dilaksanakan di Corso Galileo Ferraris, tetapi tiket hanya dapat dibeli melalui channel lain, seperti Lottomatica Stores dan Website resmi Juventus.com.

Berdasarkan sejarahnya, Juventus telah beberapa kali melakuan pergantian markas. Pertama kali Juventus bermarkas di Via Montevecchio pada tahun 1898. Setelah beberapa periode singkat pada nomor 4, Via Piazzi (1899), 14 Via Gazometro (1900-1902), Via Pastrengo (1903-1904), 1 Via Donati (1905-1906), 43 Via Carlo Alberto (1919-1921), 16 via Botero (1921-1922), selanjutnya beberapa pemikiran jangka panjang mulai dicetuskan: Pertama, mulai sejak tahun 1923 hingga tahun 1933, beralamat di the Corso Marsiglia ground, tempat dimana tim bertanding pada masa itu. Hampir selama satu dekade (1934-1943), markas klub berpindah ke 12 Via Bogino kemudian, antara tahun 1944 dan 1947, berpindah ke 151 Corso IV Novembre (yang kini the Circolo della Stampa).

Setelah seluruh perubahan tersebut, sejak tahun 1948 Juventus hanya memiliki empat “rumah”. Pada rentang waktu tahun 1948 dan 1964 di 206 piazza San Carlo, kemudian di tahun 1965 berganti domisili pada 54 Galleria San Federico, tempat dimana mereka menetap selama 10 tahun sebelum kembali berganti domisili, dengan alasan kapasitas ruangan, ke sebuah bangunan megah yang berlokasi di 7 Piazza Crimea.

Sejak Januari 2001, klub ini kembali melakukan penambahan jumlah pegawainya dan berpindah ke domisili yang ditempati pada saat ini.

2) Sejarah

Juventus didirikan dengan nama Sport Club Juventus pada pertengahan tahun 1897 oleh siswa-siswa dari sekolah Massimo D’Azeglio Lyceum di Turin, tetapi kemudian berubah nama menjadi Foot-Ball Club Juventus dua tahun kemudian. Klub ini bergabung dengan Kejuaraan Sepakbola Italia pada tahun 1900. Dalam periode itu, tim ini menggunakan pakaian warna pink dan celana hitam. Juve memenangi gelar Serie-A perdananya pada 1905, ketika mereka bermain di stadion Velodromo Umberto I. Di sana klub ini berubah warna pakaian menjadi hitam putih, terinspirasi dari klub Inggris Notts County.

Pioneer Juventus, 1988

Pada 1906, beberapa pemain Juve secara mendadak menginginkan agar Juve keluar dari Turin. Presiden Juve saat itu, Alfredo Dick kesal dan ia memutuskan hengkang untuk kemudian membentuk tim tandingan bernama FBC Torino yang kemudian menjadikan Juve vs. Torino sebagai Derby della Mole. Juventus sendiri ternyata tetap eksis walaupun ada perpecahan, bahkan bisa bertahan seusai Perang Dunia I.

Raja Italia

Pemilik FIAT, Edoardo Agnelli mengambil alih kendali Juventus pada 1923, dimana kemudian ia membangun stadion baru.[2] Hal ini memberikan semangat baru untuk Juventus, dimana pada musim 1925-26, mereka berhasil menjadi scudetto dengan mengalahkan Alba Roma dengan agregat 12-1. Pada era 1930-an, klub ini menjadi klub super di Italia dengan memenangi gelar lima kali berturut-turut dari 1930 sampai 1935, dibawah asuhan pelatin Carlo Carcano[20], dan beberapa pemain bintang seperti Raimundo Orsi, Luigi Bertolini, Giovanni Ferrari dan Luis Monti.

Juventus FC in 1903

Juventus kemudian pindah kandang ke Stadio Comunale, tetapi di akhir 1930-an dan di awal 1940-an mereka gagal merajai Italia. Bahkan mereka harus mengakui tim sekota mereka, A.C. Torino.

Setelah Perang Dunia II, Gianni Agnelli diangkat menjadi presiden kehormatan. Klub ini lantas menambah dua gelar Serie-A pada 1949–50 dan 1951–52, dibawah kepelatihan orang Inggris, Jesse Carver.

Dua striker baru dikontrak pada musim 1957–58; seorang Wales bernama John Charles dan blasteran Italia-Argentina Omar Sivori, yang bermain bersama punggawa lama seperti Giampiero Boniperti. Musim ini, Juve kembali berjaya di Serie-A, dan menjadi klub Italia pertama yang mendapatkan bintang kehormatan karena telah memenangi 10 gelar Liga Serie-A. Di musim yang sama, Omar Sivori terpilih menjadi pemain Juventus pertama yang memenangi gelar Pemain Terbaik Eropa. Juve juga berhasil memenangi Coppa Italia setelah mengalahkan ACF Fiorentina di final. Boniperti pensiun di 1961 sebagai top skorer terbaik Juventus sepanjang masa dengan 182 gol di semua kompetisi yang ia ikuti bersama Juventus.

Di era 1960-an, Juve hanya sekali memenangi Serie-A yaitu di musim 1966–67. Tetapi pada era 1970-an, Juve kembali menemukan jatidirinya sebagai klub terbaik Italia. Di bawah kepelatihan mantan pemain Juve Čestmír Vycpálek, Juve berhasil menambah dua gelar Serie-A pada musim 1971–72 dan 1972–73, dengan pemain bintang seperti Roberto Bettega, Franco Causio dan José Altafini. Selanjutnya mereka berhasil menambah dua gelar lagi bersama defender Gaetano Scirea. Dan dengan masuknya pelatih hebat bernama Giovanni Trapattoni, Juve berhasil memperpanjang dominasi mereka di era 1980-an.

– Merajai Eropa

Era tangan dingin Trapattoni benar-benar membuat Serie-A porak poranda di 1980-an. Juve sangat perkasa di era tersebut, dengan tiga gelar Serie-A empat kali di era tersebut. Puncaknya adalah pada 1982 dimana Juve menjadi klub Serie-A pertama yang berhasil memenangi Serie-A sebanyak 20 kali, dan itu berarti mereka boleh menambah tanda bintang di kausnya satu kali lagi. Paolo Rossi, salah satu pemain Juve bahkan terpilih menjadi Pemain Terbaik Eropa pada 1982, sesaat setelah berlangsungnya Piala Dunia 1982.

Michel Platini in 1987

Setelah Rossi, pria Perancis bernama Michel Platini secara mengejutkan berhasil menjadi pemain Eropa tiga kali berturut-turut; 1983, 1984 dan 1985, dimana sampai saat ini belum ada pemain yang bisa menyamai dirinya. Juventus menjadi satu-satunya klub yang mampu mengantarkan pemainnya menjadi pemain terbaik Eropa sebanyak empat tahun berurutan. Platini juga menjadi bintang saat Juve berhasil menjadi juara Liga Champions Eropa pada 1985 dengan sumbangan satu gol semata wayangnya. Tragisnya, final melawan Liverpool FC dari Inggris tersebut yang berlangsung di Stadion Heysel Belgia, harus dibayar mahal dengan kematian 39 tifoso Juventus akibat terlibat kerusuhan dengan para hooligans dari Liverpool. Sebagai hukuman, tim-tim Inggris dilarang mengikuti semua kejuaraan Eropa selama lima tahun. Dia khir 1980-an, Juve gagal menunjukkan performa terbaiknya, mereka harus mengakui keunggulan Napoli dengan bintang Diego Maradona, dan kebangkitan dua tim kota Milan, AC Milan dan Inter Milan. Pada 1990, Juve pindah kandang ke Stadio delle Alpi, yang dibangun untuk persiapan Piala Dunia 1990

– Era Marcello Lippi

Marcelo Lippi, Sang Pelatih

Marcello Lippi mengambil alih posisi manajer Juventus pada awal musim 1994-95. Ia lantas mengantarkan Juventus memenangi Serie-A untuk pertama kalinya sejak pertengahan 1980-an di musim 1994-95. Pemain bintang yang ia asuh saat itu adalah Ciro Ferrara, Roberto Baggio, Gianluca Vialli dan pemain muda berbakat bernama Alessandro Del Piero. Lippi memimpin Juventus untuk memenangi Liga Champions Eropa pada musim itu juga, dengan mengalahkan Ajax Amsterdam melalui adu penalti, setelah skor imbang 1-1 pada babak normal, dimana Fabrizio Ravanelli menyumbangkan satu gol untuk Juve.

Juventus, Era Marcelo Lippi

 

Sesaat setelah bangkit kembali, para pemain Juventus yang biasa-biasa saja saat itu secara mengagumkan bisa mengembangkan diri mereka menjadi pemain-pemain bintang. Mereka adalah Zinedine Zidane, Filippo Inzaghi dan Edgar Davids. Juve kembali memenangi Serie-A musim 1996–97 dan 1997–98, termasuk juga Piala Super Eropa 1996 dan Piala Interkontinental 1996. Juventus juga mencapai final Liga Champions di musim 1997 dan 1998, tetapi mereka kalah oleh Borussia Dortmund (Jerman) dan Real Madrid (Spanyol).

 

Gianluigi Buffon

Setelah dua musim absen karena dikontrak oleh Inter Milan (dan gagal), Marcello Lippi kembali ke Juventus di awal 2001. Pria penyuka cerutu ini lantas membawa beberapa pemain biasa, yang kembali ia berhasil sulap menjadi pemain hebat, diantaranya Gianluigi Buffon, David Trézéguet, Pavel Nedvěd dan Lilian Thuram, dimana para pemain tersebut membantu Juve kembali memenangi dua gelar Serie-A di musim 2001-02 dan 2002-03. Juve juga berhasil maju kembali ke final Liga Champions, sayangnya mereka kalah oleh sesame tim Italia lain, AC Milan. Tahun berikutnya, Lippi diangkat menjadi manajer timnas Italia setelah bersaing ketat dengan Fabio Capello, dan mengakhiri eranya sebagai pelatih terbaik Juventus di era 1990-an dan awal 2000-an.

Pavel Nedved

– Juventus, Masa Kini

Mantan pemain Juventus era 1970-an, Fabio Capello diangkat menjadi pelatih Juve pada 2004. Ia membawa timnya menjuarai dua musim Serie-A di musim 2004-05 dan 2005-06. Sayangnya, di Mei 2006 Juve ketahuan menjadi salah satu klub Serie-A yang terlibat skandal pengaturan skor bersama AC Milan, AS Roma, SS Lazio, dan ACF Fiorentina. Juve terkena sanksi berat, dimana mereka terpaksa di degradasi ke Serie-B untuk pertama kali dalam sejarah. Dua gelar yang dibawa Capello juga harus direlakan untuk dicabut.

Dibawah manajer muda Perancis, Didier Deschamps dan para pemain setia seperti Gianluigi Buffon dan Pavel Nedved, Juve menjadi tim super di Serie-B dan dengan hasil sebagai juara Serie-B untuk pertama kalinya, Juve kembali ke Serie-A pada musim 2007-08. Claudio Ranieri diangkat menjadi pelatih Juve setelah Deschamps berseteru soal bayaran gaji. Sayangnya usia Ranieri juga tidak berlangsung lama setelah ia gagal membawa Juve juara di musim 2008-09. Mantan pemain Juve lain, Ciro Ferrara mulai bertugas menangani Juve di dua pertandingan akhir musim 2008-09 dan melanjutkan posisinya untuk musim 2009-10

Ciro Ferrara

3) Warna, Logo dan Julukan

Juventus telah bermain memakai kostum berwarna hitam dan putih ala zebra sejak tahun 1903. Aslinya, Juve bermain memakai kostum berwarna pink, tetapi karena satu dan lain hal, salah satu pemain Juve malah tampil dengan pakaian belang. Akhirnya Juve memutuska untuk beralih kostum menjadi belang hitam-putih.

Juventus Uniform

Juventus lantas menanyakan pada pemain yang memakai baju belang tersebut, yaitu orang Inggris bernama John Savage, apakah ia bisa mengontak teman-temannya di Inggris yang bisa menyuplai kostum Juve dengan warna tersebut. Ia lantas menghubungi temannya yang tinggal di Nottingham, yang menjadi supporter Notts County, untuk mengirim kostum belang hitam-putih ke Turin, dan temannya tersebut menyanggupinya. Juve have worn the shirts ever since, considering the colors to be aggressive and powerful.

Logo resmi Juventus Football Club telah mengalami berbagai perubahan dan modifikasi sejak tahun 1920. Modifikasi terakhir adalah pada musim 2004-05. Dimana saat itu mereka mengubah logo menjadi oval, dengan lima garis vertical, dan banteng yang dibentuk dalam sebuah siluet. Dahulu sebelum musim 2004-05, Juve memiliki sebuah symbol berwarna biru (yang merupakan symbol lain dari kota Turin). Selain itu ditambahkan juga dua bintang yang menggambarkan mereka sebagai satu-satunya klub yang mampu memenagi gelar Serie-A 20 kali. Sementara di era 1980-an, logo Juve lebih banyak dihiasi dengan siluet seekor zebra, menggambarkan mereka sebagai tim zebra kuat di Serie-A.

Dalam perjalanan sejarahnya, Juve telah memiliki beberapa nama julukan, la Vecchia Signora (the Old Lady dalam bahasa Inggris atau “si Nyonya Tua” dalam bahasa Indonesia) merupakan salah satu contoh. Kata “old” (tua) merupakan bagian dari nama Juventus, yang berarti “youth” (muda) dalam Latin. Nama ini diambil dari usia para pemain Juventus yang muda-muda di era 1930-an. Nama “lady” (nyonya) merupakan bagian dari sebutan para tifoso ketika memanggil Juve sebelum era 1930-an. Klub ini juga mendapat julukan la Fidanzata d’Italia (the Girlfriend of Italy dalam bahasa Inggris atau “Pacar Italia” dalam bahasa Indonesia), karena selama beberapa tahun, Juve selalu memasok pemain baru dari daerah selatan Itala seperti dari Naples atau Palermo, dimana selain bermain sebagai pesepakbola, mereka juga bekerja untuk FIAT sejak awal 1930-an. Nama lain Juve adalah: I Bianconeri (the black-and-whites, atau Si Belang) dan Le Zebre (the zebras, atau Si Zebra) yang merujuk pada warna kostum Juventus.

4) Skuad

Tim utama, terhitung terhitung tanggal 1 September 2009.

No. Posisi Nama pemain
1 Flag  of Italy.svg GK Gianluigi Buffon (wakil kapten)
2 Flag of Uruguay.svg DF Martín Cáceres (meminjam dari FC Barcelona)
3 Flag  of Italy.svg DF Giorgio Chiellini
4 Flag  of Brazil.svg MF Felipe Melo
5 Flag  of Italy.svg DF Fabio Cannavaro
6 Flag  of Italy.svg DF Fabio Grosso
7 Flag of Bosnia and Herzegovina.svg MF Hasan Salihamidžić
8 Flag  of Italy.svg MF Claudio Marchisio
9 Flag  of Italy.svg FW Vincenzo Iaquinta
10 Flag  of Italy.svg FW Alessandro Del Piero (Kapten)
11 Flag  of Brazil.svg FW Amauri
12 Flag  of Italy.svg GK Antonio Chimenti
13 Flag of Austria.svg GK Alex Manninger
15 Flag of France.svg DF Jonathan Zebina
16 Flag  of Italy.svg MF Mauro Camoranesi
17 Flag of France.svg FW David Trézéguet
18 Flag of Denmark.svg MF Christian Poulsen
19 Flag  of Italy.svg DF Cristian Molinaro
20 Flag  of Italy.svg MF Sebastian Giovinco
21 Flag of  the Czech Republic.svg DF Zdeněk Grygera
22 Flag of  Mali.svg MF Mohamed Sissoko
23 Flag  of Italy.svg DF Lorenzo Ariaudo
28 Flag  of Brazil.svg MF Diego
29 Flag  of Italy.svg DF Paolo De Ceglie
30 Flag of Portugal.svg MF Tiago
31 Flag of Bulgaria.svg GK Mario Kirev
33 Flag  of Italy.svg DF Nicola Legrottaglie

5) Stadion

Setelah dua musim perdana mereka (1897 dan 1898), dimana Juve bermain di Parco del Valentino dan Parco Cittadella, pertandingan-pertandingan selanjutnya di gelar di Piazza d’Armi Stadium sampai 1908, kecuali di 1905 saat nama Scudetto diperkenalkan untuk pertama kali, dan di di 1906, dimana Juve bermain di Corso Re Umberto.

Dari 1909 sampai 1922, Juve bermain di Corso Sebastopoli Camp, dan selanjutnya mereka pindah ke Corso Marsiglia Camp dimana mereka bertahan sampai 1933, dan memenangi empat gelar liga. Di akhir 1933 mereka bermain di Stadio Mussolini yang disiapkan untuk Piala Dunia 1934. Setelah PDII, stadion tersebut berganti nama menjadi Stadio Comunale Vittorio Pozzo. Juventus memainkan pertandingan kandangnya di sana selama 57 tahun dengan total pertandingan sebanyak 890 kali. Sampai akhir Juli 2003 tempat tersebut masih dipakai sebagai sempat latihan Juve yang resmi.

Dari tahun 1990 sampai akhir musim 2005-06, Juve menggunakan Stadio Delle Alpi, sebagai kandang mereka yang aslinya dibangun untuk Piala Dunia 1990, sesekali Juve juga menggunakan stadion lain seperti Renzo Barbera di Palermo, Dino Manuzzi di Cesena dan San Siro at Milan.

Stadion Delle Alpi

Agustus 2006 Juve kembali bermain di Stadio Comunale, yang sekarang dikenal dengan nama Stadio Olimpico, setelah Stadio Delle Alpi dipakai dan kemudian direnovasi untuk Olimpiade Musim Dingin Turin 2006.

Pada November 2008 Juventus mengumumkan bahwa mereka akan menginvestasikan dana sebesar €100 juta untuk membangun stadion baru di bekas lahan Stadion Delle Alpi. Berbeda dengan Delle Alpi, stadion baru Juve ini tidak menyertakan lintasan lari, dan jarak antara penonton dengan lapangan hanya 8,5 meter saja, mirip dengan mayoritas stadion di Inggris, dimana kapasitasnya diperkirakan akan berisi 41.000 kursi. Pekerjaan ini dimulai pada musim semi 2009, dan diperkirakan akan selesai pada awal musim 2011-12.

6) Tifosi

 

Juventini

Juventus merupakan salah satu klub sepakbola dengan jumlah pendukung terbesar di Italia, dengan jumlah tifoso hampir 12 juta orang (32.5% dari total tifosi bola di Italia), merujuk pada penelitian yang dilakukan pada Agustus 2008 oleh harian La Repubblica, dan merupakan salah satu klub dengan jumlah supporter terbesar di dunia, dengan jumlah fans hampir 170 juta orang (43 juta orang di Eropa), selebihnya ada di Mediterrania, yang kebanyakkan diisi oleh imigran Italia. Tim Turin ini juga mempunyai fans club yang cukup besar di seluruh dunia, salah satunya di Indonesia melalui Juventini Indonesia.

Tiket-tiket pertandingan kandang Juve memang tidak selalu habis setiap kali Juve bertanding di Serie-A atau Eropa, kebanyakkan fans Juve di Turin mendukung tim kesayangan mereka lewat bar-bar atau restoran. Di luar Italia, kekuatan supporter Juventus sangatlah kuat. Juve juga sangat popular di Italia Utara dan Pulau Sisilia, dan menjadi kekuatan besar saat Juve bertanding tandang, lebih dibandingkan para pendukung di Turin sendiri.

7) Prestasi dan Penghargaan

Secara umum, Juventus adalah klub tersukses di Italia dengan raihan gelar 40 gelar nasional di Italia, dan salah satu klub tersukses di dunia, dengan raihan 11 gelar internasional, dengan raihan rekor 9 gelar UEFA dan dua FIFA. menjadikan mereka sebagai klub ketiga yang sukses di Eropa dan juga dunia, dimana semuanya telah diakui secara pasti oleh UEFA dan FIFA, beserta enam konfederasi sepakbola dunia.

Juventus telah memenangi 27 gelar Serie-A, dan menjadi rekor terbanyak sampai saat ini, dan juga menjadi catatan tersendiri saat Juve mendominasi lima musim berturut-turut Serie-A dari musim 1930-31 sampai 1934-35. Mereka juga telah memenangi Piala Italia Sembilan kali, dan menjadi rekor sampai saat ini.

Juventus menjadi satu-satunya klub sepakbola Italia yang telah mendapatkan dua bintang sebagai tanda mereka telah menjuarai Serie-A lebih dari 20 kali. Bintang pertama mereka dapatkan pada musim 1957-58 ketika Juve berhasil menjuarai Serie-A untuk kesepuluh kalinya, dan yang kedua pada 1981-82 ketika Juve menjuarai Serie-A untuk keduapuluh kalinya. Juventus juga merupakan klub Italia pertama yang memenangi gelar dobel (Serie-A dan Coppa Italia) sebanyak dua kali, yaitu pada 1959-60 dan 1994-95.

Juventus tercatatkan juga sebagai klub pertama dan satu-satunya di dunia yang berhasil memenangi seluruh gelar kejuaraan resmi, yang diakui oleh FIFA, Juve memenangi Piala UEFA tiga kali, berbagi rekor bersama Liverpool dan Inter Milan.

Klub Turin ini menempati posisi 7 —tetapi teratas untuk klub Italia—dalam daftar Klub Terbaik FIFA Abad 20 yang diumumkan pada 23 Desember 2000.

Juventus juga mendapatkan status sebagai World’s Club Team of the Year sebanyak dua kali tepatnya pada 1993 dan 1996, dan menempati rangking 3 dalam Rangking Klub Sepanjang masa (1991-2008) oleh International Federation of Football History & Statistics.

Pada akhir dari setiap musim kompetisi, tim yang berhasil menduduki posisi pertama pada liga Italia Seri A memenangkan gelar Scudetto, sebuha symbol yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1924, dikenakan pada seragam pada musim yang selanjutnya, yang menandakan bahwa tim tersebut adalah sang juara. Pemenang juga akan diberikan penghargaan berupa Italian Champions Cup, piala liga yang resmi mulai ada sejak musim kompetisi 1960-61, dan tim juara akan memperoleh akses untuk mengikuti kompetisi Champions League bersama dengan timyang berhasil berada di posisi kedua klasemen.
1905          1925/1926  1930/1931  1931/1932  1932/1933  1933/1934  1934/1935
1949/1950  1951/1952  1957/1958  1959/1960  1960/1961  1966/1967  1971/1972
1972/1973  1974/1975  1976/1977  1977/1978  1980/1981  1981/1982  1983/1984
1985/1986  1994/1995  1996/1997  1997/1998  2001/2002  2002/2003  2004/2005
2005/2006
UEFA Champions League, dahulu dikenal dengan nama European Cup dan biasanya disingkat menjadi Champions League, ini adalah turnamen sepakbola terbaik di Eropa dan kompetisi antar klub terbaik di dunia, baik dalam hal prestise dan juga aspek bisnis.
1984/1985  1995/1996
Piala Winners’ Cup ditujukan bagi tim tim yang berhasil menjuarai piala nasional pada negaranya. Pada tahun 1999, turnamen ini telah ditiadakan dan sejak saat itu, para pemenang dari piala nasional di tiap-tiap Negara berhak untuk berkompetisi di UEFA Cup.
1983/1984
Italian Football Cup adalah Piala Nasional untuk Negara Italia, diadakan setiap tahun dibawah naungan yurisdiksi dari FIFC (Federasi Sepakbola Italia), yang dikelola oleh Lega Calcio (Liga Sepakbola).
1937/1938  1941/1942  1958/1959  1959/1960  1964/1965  1978/1979  1982/1983
1989/1990  1994/1995
UEFA Cup ialah sebuah turnamen sepakbola eropa yang ddimulai pada musim kompetisi 1971/72, menggantikan kejuaraan lama yang diadakan oleh UEFA, kompetisi ini ditujukan bagi para tim dengan posisi klasemen berada di bawah tim yang lolos pada kuota Champions League di negaranya masing-masing.
1976/1977  1989/1990  1992/1993
Intercontinental Cup, yang juga biasa dikenal dengan Piala Eropa-America Selatan, merupakan sebuah kompetisi tahunan yang diselenggarakan diantara tahun 1960 dan 2004, dengan mempertemukan juara dari European Cup, yang sekarang dikenal dengan UEFA Champions League, dengan juara dari Copa Libertadores yang diselenggarakan di Amerika Selatan.
1985           1996
InterToto adalah kompetisi turnamen musim panas yang diadakan oleh UEFA dan ditujukan bagi para tim yang menyudahi musim kompetisi dengan berada di posisi di bawah para tim yang memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam UEFACup.
1999
Italian Super Cup adalah sebuah kompetisi dengan satu pertandingan yang mempertemukan juara italia, yaitu pemenang dari Liga Italia Seri A, dan pemenang kompetisi Piala Italia.
1995           1997           2002           2003
European Super Cup, atau UEFA Super Cup, adalah sebuah piala sepakbola Eropa yang dianugerahkan pada Champions League dan edisi terakhir dari UEFA Cup. Pertandingan akan diselenggarakan pada ibukota dari Monaco pada akhir bulan Agustus dan sebagai pertanda dimulainya musim kompetisi sepakbola benua Eropa terbaru.
1985           1996

8) Rekor dan Statistik Klub

Alessandro Del Piero memegang rekor sebagai pemain Juve yang paling banyak tampil dalam pertandingan (600 kali sampai 10 Mei 2009). Ia mengambil alih posisi tersebut dari legenda Juve, Gaetano Scirea pada 6 Maret 2008 saat melawan Palermo. Giampiero Boniperti memegang rekor sebagai pemain yang banyak tampil di Serie-A dengan 444 kali penampilan.

Alessandro 'King Alex' Del Piero

Bila dihitung dengan seluruh kompetisi resmi yang diikuti Juventus, Alessandro Del Piero memegang rekor sebagai topskor Juve dengan 241 gol sampai 19 Mei 2008, sejak pertama ia bergabung pada 1993. Giampiero Boniperti, yang sempat menduduki posisi tersebut dengan 182 gol menyusul di posisi kedua, tetapi secara statistic ia masih menjadi topskor terbanyak di ajang Serie-A sampai Juni 2007.

Pada musim 1933-34, Felice Placido Borel II° mencetak 31 gol dalam 34 kali penampilan, menjadikan rekor pribadi bagi dirinya dan Juventus dalam satu musim. Ferenc Hirzer menjadi topskor terbanyak dalam satu musim dengan 35 gol dalam 26 penampilan di musim 1925-26 (rekor juga untuk sepakbola Italia). Gol paling banyak tercipta oleh satu pemain adalah 6 gol yang dicapai oleh Omar Enrique Sivori ketika Juventus melawan Inter Milan pada musim 1960-61.[20]

Pertandingan resmi perdana yang diikuti oleh Juventus adalah Third Federal Football Championship, yang merupakan pendahulu dari Serie-A, melawan Torinese dimana Juve kalah 0-1. Kemenangan terbesar yang dicetak Juve adalah saat melawan Cento dengan skor 15-0 di ronde kedua Coppa Italia pada musim 1926-27. Di Serie-A sendiri, Fiorentina dan Fiumana adalah dua klub yang sempat dikalahkan Juve dengan skor besar, masing-masing klub kalah dari Juve dengan skor 11-0 di musim 1928-29. Kekalahan Juventus terbesar diderita saat mereka menjalani musim 1911-12 (melawan AC Milan kalah dengan skor 1-8) dan musim 1912-13 (melawan rival sekota AC Torino kalah dengan skor 0-8).

Zinedine Zidane

Si Nyonya Tua memegang rekor sebagai tim dengan produktivitas gol paling besar sepanjang musim, di semua kompetisi, tepatnya pada musim 1992-93 dengan total 106 gol sepanjang musim. Penjualan Zinedine Zidane ke Real Madrid pada 2001 menjadi rekor dunia dengan nilai £46 juta sebelum dipecahkan oleh Cristiano Ronaldo yang juga pindah ke klub yang sama dengan nilai £82 juta.

9) Konstribusi untuk Tim Nasional Italia

Secara keseluruhan, Juventus merupakan klub yang paling banyak menyumbang pemain untuk timnas Italia dalam sejarah,[74] Si Nyonya Tua menjadi satu-satunya klub yang menyumbangkan pemain sejak Piala Dunia 1934.[75] Juve juga menjadi contributor utama untuk timnas Italia yang dikenal dengan sebutan Dua Era Emas, yang pertama adalah saat era Quinquennio d’Oro (The Golden Quinquennium), dari 1931 sampai 1935, dan Ciclo Leggendario (The Legendary Cycle), dari 1972 sampai 1986.

Berikut adalah daftar pemain Juventus yang dipanggil masuk ke dalam skuad tim Azzuri Italia saat mereka memenangi gelar juara dunia:[76]

Fabio Cannavaro

Dua pemain Juve memenangi gelar Sepatu Emas di Piala Dunia, yang pertama adalah Paolo Rossi di 1982 dan Salvatore Schillaci di Piala Dunia 1990. Sebagai kontributor untuk timnas juara dunia Italia, dua pemain Juve yaitu Alfredo Foni dan Pietro Rava, juga berhasil mengantarkan Italia merebut medali emas dalam Olimpiade Musim Panas 1936. Pemain Juve lainnya, Sandro Salvadore, Ernesto Càstano dan Giancarlo Bercellino juga menjadi bagian dari timnas juara Eropa Italia tahun 1968.

Juventus juga berperan dalam menyumbang pemain-pemain hebat untuk timnas non-Italia. Zinedine Zidane dan Didier Deschamps adalah dua pemain Juve saat mereka memenangi Piala Dunia 1998 membuat Juventus menjadi penyumbang terbanyak skuad juara dunia suatu timnas dengan jumlah 24 pemain. Pemain timnas Perancis lain seperti Patrick Vieira, David Trézéguet dan Lilian Thuram juga sempat singgah bermain di Juventus. Tiga pemain Juve juga memenangi kejuaraan Piala Eropa dengan timnas non-Italia, Luis del Sol menjadi salah satunya saat ia memenangi Piala Eropa 1964 bersama Spanyol, disusul Michel Platini dan Zidane yang memenangi Euro 1984 dan Euro 2000.

Juventus F.C.

Logo  Juventus pada tahun 2004
Nama lengkap Juventus Football Club S.p.A.
Julukan La Vecchia Signora (Nyonya Tua)
La Fidanzata d’Italia
I bianconeri (Putih – Hitam)
Le Zebre
Didirikan 1 November 1897
Stadion Stadion Olimpiade,
Torino
(Kapasitas: 27.500)
Ketua Flag of Italy.svg Giovanni Cobolli Gigli
Pelatih Flag of Italy.svg Ciro Ferrara
Liga Serie-A
2008-09 Serie-A, (P2)

Juventus Football Club (dari bahasa Latin: iuventus: youth, pengucapan [juˈvɛntus], biasa disebut sebagai Juventus dan popular dengan nama Juve, merupakan sebuah klub sepakbola professional asal Italia yang berbasis di kota Turin, Piedmont, Italia. Klub ini didirikan pada 1897 dan telah mengarungi beragam sejarah manis, dengan pengecualian kejadian musim 2006-06, di Liga Italia Serie-A. Klub ini sendiri merupakan salah satu anak perusahaan dari FIAT Group, yang saat ini dikuasai oleh keluarga Agnelli, dan membawahi perusahaan-perusahaan lain seperti Fiat Automobile, Ducati Corse (termasuk tim balap MotoGP dan WSBK Ducati), tim F1 Scuderia Ferrari, Ferrari Corse, dan Maserati Automobile.

Juventus merupakan salah satu tim tersukses dalam sejarah sepakbola Italia. Dan juga tercatat sebagai salah satu klub tersukses di dunia. Merujuk pada International Federation of Football History and Statistics, sebuah organisasi internasional yang berafiliasi pada FIFA, Juventus menjadi klub terbaik Italia di abad 20, dan menjadi klub terbaik Italia kedua di Eropa dalam waktu yang sama.

Secara keseluruhan, klub ini telah memenangi 52 kejuaraan resmi, terbanyak pertama di Italia (kedua A.C Milan yang telah mengkoleksi 47 gelar). Dengan rincian 41 di Italia, dan 11 di zona UEFA dan dunia. Sekaligus menjadikannya sebagai klub tersukses ketiga di Eropa, dan keenam di dunia, dengan gelar-gelar dunia yang diakui oleh enam organisasi konfederasi sepakbola, dan tentunya FIFA.

Klub ini menjadi klub pertama Italia dan Eropa Selatan yang berhasil memenangi gelar Piala UEFA (sekarang namanya menjadi Liga Europa). Pada 1985, Juventus menjadi satu-satunya klub di dunia yang berhasil memenangi seluruh kejuaraan piala internasional dan kejuaraan liga nasional, dan menjadi klub Eropa pertama yang mampu menguasai semua kejuaraan UEFA dalam satu musim.

Juventus juga menjadi salah satu klub sepakbola Italia dengan jumlah fans terbesar, dan diperkirakan ada 170 juta orang didunia yang juga menjadi fans Juve. Klub ini menjadi salah satu pencipta ide European Club Association, yang dulu dikenal dengan nama G-14, yang berisikan klub-klub kaya Eropa. Klub ini juga menjadi penyumbang terbanyak pemain untuk tim nasional Italia.

Sejak 2006 klub ini bermarkas di Stadio Olimpico di Torino, dimana stadion mereka yaitu Stadio delle Alpi, sedang dalam perombakan besar-besaran yang diperkirakan akan selesai pada awal musim 2011-2012, dimana nanti namanya akan berubah menjadi Juventus Arena.

Markas Pasukan Hitam Putih

C.so Galileo Ferraris 32, 10128 Torino

Sejak Januari 2001 Juventus Football Club bermarkas pada sebuah bangunan elegan yang beralamat di 32, Corso Galileo Ferraris, di kota Turin. Beragam perkantoran tersebar di empat lantai. Terdapat 75 pekerja yang terbagi pada bagian-bagian sebagai berikut: Administrasi – Komersial – Komunikasi – Manajemen – Perencanaan, Supervisi dan Special Project – Human Resources – Area Olah raga.

Markas Juventus juga digunakan sebagai lokasi kantor Merchandising Juventus, yang mengelola kesepakatan-kesepakatan mengenai lisensi dan juga proyek-proyek Juventus Soccer Schools. Tidak ada bagian perkantoran yang ditawarkan kepada public. Proses ticketing dilaksanakan di Corso Galileo Ferraris, tetapi tiket hanya dapat dibeli melalui channel lain, seperti Lottomatica Stores dan Website resmi Juventus.com.

Berdasarkan sejarahnya, Juventus telah beberapa kali melakuan pergantian markas. Pertama kali Juventus bermarkas di Via Montevecchio pada tahun 1898. Setelah beberapa periode singkat pada nomor 4, Via Piazzi (1899), 14 Via Gazometro (1900-1902), Via Pastrengo (1903-1904), 1 Via Donati (1905-1906), 43 Via Carlo Alberto (1919-1921), 16 via Botero (1921-1922), selanjutnya beberapa pemikiran jangka panjang mulai dicetuskan: Pertama, mulai sejak tahun 1923 hingga tahun 1933, beralamat di the Corso Marsiglia ground, tempat dimana tim bertanding pada masa itu. Hampir selama satu dekade (1934-1943), markas klub berpindah ke 12 Via Bogino kemudian, antara tahun 1944 dan 1947, berpindah ke 151 Corso IV Novembre (yang kini the Circolo della Stampa).

Setelah seluruh perubahan tersebut, sejak tahun 1948 Juventus hanya memiliki empat “rumah”. Pada rentang waktu tahun 1948 dan 1964 di 206 piazza San Carlo, kemudian di tahun 1965 berganti domisili pada 54 Galleria San Federico, tempat dimana mereka menetap selama 10 tahun sebelum kembali berganti domisili, dengan alasan kapasitas ruangan, ke sebuah bangunan megah yang berlokasi di 7 Piazza Crimea.

Sejak Januari 2001, klub ini kembali melakukan penambahan jumlah pegawainya dan berpindah ke domisili yang ditempati pada saat ini.

Sejarah

Juventus didirikan dengan nama Sport Club Juventus pada pertengahan tahun 1897 oleh siswa-siswa dari sekolah Massimo D’Azeglio Lyceum di Turin, tetapi kemudian berubah nama menjadi Foot-Ball Club Juventus dua tahun kemudian. Klub ini bergabung dengan Kejuaraan Sepakbola Italia pada tahun 1900. Dalam periode itu, tim ini menggunakan pakaian warna pink dan celana hitam. Juve memenangi gelar Serie-A perdananya pada 1905, ketika mereka bermain di stadion Velodromo Umberto I. Di sana klub ini berubah warna pakaian menjadi hitam putih, terinspirasi dari klub Inggris Notts County.

Pioneer Juventus, 1988

Pada 1906, beberapa pemain Juve secara mendadak menginginkan agar Juve keluar dari Turin. Presiden Juve saat itu, Alfredo Dick kesal dan ia memutuskan hengkang untuk kemudian membentuk tim tandingan bernama FBC Torino yang kemudian menjadikan Juve vs. Torino sebagai Derby della Mole. Juventus sendiri ternyata tetap eksis walaupun ada perpecahan, bahkan bisa bertahan seusai Perang Dunia I.

Raja Italia

Pemilik FIAT, Edoardo Agnelli mengambil alih kendali Juventus pada 1923, dimana kemudian ia membangun stadion baru.[2] Hal ini memberikan semangat baru untuk Juventus, dimana pada musim 1925-26, mereka berhasil menjadi scudetto dengan mengalahkan Alba Roma dengan agregat 12-1. Pada era 1930-an, klub ini menjadi klub super di Italia dengan memenangi gelar lima kali berturut-turut dari 1930 sampai 1935, dibawah asuhan pelatin Carlo Carcano[20], dan beberapa pemain bintang seperti Raimundo Orsi, Luigi Bertolini, Giovanni Ferrari dan Luis Monti.

Juventus FC in 1903

Juventus kemudian pindah kandang ke Stadio Comunale, tetapi di akhir 1930-an dan di awal 1940-an mereka gagal merajai Italia. Bahkan mereka harus mengakui tim sekota mereka, A.C. Torino.

Setelah Perang Dunia II, Gianni Agnelli diangkat menjadi presiden kehormatan. Klub ini lantas menambah dua gelar Serie-A pada 1949–50 dan 1951–52, dibawah kepelatihan orang Inggris, Jesse Carver.

Dua striker baru dikontrak pada musim 1957–58; seorang Wales bernama John Charles dan blasteran Italia-Argentina Omar Sivori, yang bermain bersama punggawa lama seperti Giampiero Boniperti. Musim ini, Juve kembali berjaya di Serie-A, dan menjadi klub Italia pertama yang mendapatkan bintang kehormatan karena telah memenangi 10 gelar Liga Serie-A. Di musim yang sama, Omar Sivori terpilih menjadi pemain Juventus pertama yang memenangi gelar Pemain Terbaik Eropa. Juve juga berhasil memenangi Coppa Italia setelah mengalahkan ACF Fiorentina di final. Boniperti pensiun di 1961 sebagai top skorer terbaik Juventus sepanjang masa dengan 182 gol di semua kompetisi yang ia ikuti bersama Juventus.

Di era 1960-an, Juve hanya sekali memenangi Serie-A yaitu di musim 1966–67. Tetapi pada era 1970-an, Juve kembali menemukan jatidirinya sebagai klub terbaik Italia. Di bawah kepelatihan mantan pemain Juve Čestmír Vycpálek, Juve berhasil menambah dua gelar Serie-A pada musim 1971–72 dan 1972–73, dengan pemain bintang seperti Roberto Bettega, Franco Causio dan José Altafini. Selanjutnya mereka berhasil menambah dua gelar lagi bersama defender Gaetano Scirea. Dan dengan masuknya pelatih hebat bernama Giovanni Trapattoni, Juve berhasil memperpanjang dominasi mereka di era 1980-an.

Merajai Eropa

Era tangan dingin Trapattoni benar-benar membuat Serie-A porak poranda di 1980-an. Juve sangat perkasa di era tersebut, dengan tiga gelar Serie-A empat kali di era tersebut. Puncaknya adalah pada 1982 dimana Juve menjadi klub Serie-A pertama yang berhasil memenangi Serie-A sebanyak 20 kali, dan itu berarti mereka boleh menambah tanda bintang di kausnya satu kali lagi. Paolo Rossi, salah satu pemain Juve bahkan terpilih menjadi Pemain Terbaik Eropa pada 1982, sesaat setelah berlangsungnya Piala Dunia 1982.

Michel Platini in 1987

Setelah Rossi, pria Perancis bernama Michel Platini secara mengejutkan berhasil menjadi pemain Eropa tiga kali berturut-turut; 1983, 1984 dan 1985, dimana sampai saat ini belum ada pemain yang bisa menyamai dirinya. Juventus menjadi satu-satunya klub yang mampu mengantarkan pemainnya menjadi pemain terbaik Eropa sebanyak empat tahun berurutan. Platini juga menjadi bintang saat Juve berhasil menjadi juara Liga Champions Eropa pada 1985 dengan sumbangan satu gol semata wayangnya. Tragisnya, final melawan Liverpool FC dari Inggris tersebut yang berlangsung di Stadion Heysel Belgia, harus dibayar mahal dengan kematian 39 tifoso Juventus akibat terlibat kerusuhan dengan para hooligans dari Liverpool. Sebagai hukuman, tim-tim Inggris dilarang mengikuti semua kejuaraan Eropa selama lima tahun. Dia khir 1980-an, Juve gagal menunjukkan performa terbaiknya, mereka harus mengakui keunggulan Napoli dengan bintang Diego Maradona, dan kebangkitan dua tim kota Milan, AC Milan dan Inter Milan. Pada 1990, Juve pindah kandang ke Stadio delle Alpi, yang dibangun untuk persiapan Piala Dunia 1990

Era Marcello Lippi

Marcelo Lippi, Sang Pelatih

Marcello Lippi mengambil alih posisi manajer Juventus pada awal musim 1994-95. Ia lantas mengantarkan Juventus memenangi Serie-A untuk pertama kalinya sejak pertengahan 1980-an di musim 1994-95. Pemain bintang yang ia asuh saat itu adalah Ciro Ferrara, Roberto Baggio, Gianluca Vialli dan pemain muda berbakat bernama Alessandro Del Piero. Lippi memimpin Juventus untuk memenangi Liga Champions Eropa pada musim itu juga, dengan mengalahkan Ajax Amsterdam melalui adu penalti, setelah skor imbang 1-1 pada babak normal, dimana Fabrizio Ravanelli menyumbangkan satu gol untuk Juve.

Juventus, Era Marcelo Lippi

 

Sesaat setelah bangkit kembali, para pemain Juventus yang biasa-biasa saja saat itu secara mengagumkan bisa mengembangkan diri mereka menjadi pemain-pemain bintang. Mereka adalah Zinedine Zidane, Filippo Inzaghi dan Edgar Davids. Juve kembali memenangi Serie-A musim 1996–97 dan 1997–98, termasuk juga Piala Super Eropa 1996 dan Piala Interkontinental 1996. Juventus juga mencapai final Liga Champions di musim 1997 dan 1998, tetapi mereka kalah oleh Borussia Dortmund (Jerman) dan Real Madrid (Spanyol).

Zinedine Zidane

Setelah dua musim absen karena dikontrak oleh Inter Milan (dan gagal), Marcello Lippi kembali ke Juventus di awal 2001. Pria penyuka cerutu ini lantas membawa beberapa pemain biasa, yang kembali ia berhasil sulap menjadi pemain hebat, diantaranya Gianluigi Buffon, David Trézéguet, Pavel Nedvěd dan Lilian Thuram, dimana para pemain tersebut membantu Juve kembali memenangi dua gelar Serie-A di musim 2001-02 dan 2002-03. Juve juga berhasil maju kembali ke final Liga Champions, sayangnya mereka kalah oleh sesame tim Italia lain, AC Milan. Tahun berikutnya, Lippi diangkat menjadi manajer timnas Italia setelah bersaing ketat dengan Fabio Capello, dan mengakhiri eranya sebagai pelatih terbaik Juventus di era 1990-an dan awal 2000-an.

Pavel Nedved

Juventus, Masa Kini

Mantan pemain Juventus era 1970-an, Fabio Capello diangkat menjadi pelatih Juve pada 2004. Ia membawa timnya menjuarai dua musim Serie-A di musim 2004-05 dan 2005-06. Sayangnya, di Mei 2006 Juve ketahuan menjadi salah satu klub Serie-A yang terlibat skandal pengaturan skor bersama AC Milan, AS Roma, SS Lazio, dan ACF Fiorentina. Juve terkena sanksi berat, dimana mereka terpaksa di degradasi ke Serie-B untuk pertama kali dalam sejarah. Dua gelar yang dibawa Capello juga harus direlakan untuk dicabut.

Dibawah manajer muda Perancis, Didier Deschamps dan para pemain setia seperti Gianluigi Buffon dan Pavel Nedved, Juve menjadi tim super di Serie-B dan dengan hasil sebagai juara Serie-B untuk pertama kalinya, Juve kembali ke Serie-A pada musim 2007-08. Claudio Ranieri diangkat menjadi pelatih Juve setelah Deschamps berseteru soal bayaran gaji. Sayangnya usia Ranieri juga tidak berlangsung lama setelah ia gagal membawa Juve juara di musim 2008-09. Mantan pemain Juve lain, Ciro Ferrara mulai bertugas menangani Juve di dua pertandingan akhir musim 2008-09 dan melanjutkan posisinya untuk musim 2009-10

Warna, Logo dan Julukan

Juventus telah bermain memakai kostum berwarna hitam dan putih ala zebra sejak tahun 1903. Aslinya, Juve bermain memakai kostum berwarna pink, tetapi karena satu dan lain hal, salah satu pemain Juve malah tampil dengan pakaian belang. Akhirnya Juve memutuska untuk beralih kostum menjadi belang hitam-putih.

Juventus Uniform

Juventus lantas menanyakan pada pemain yang memakai baju belang tersebut, yaitu orang Inggris bernama John Savage, apakah ia bisa mengontak teman-temannya di Inggris yang bisa menyuplai kostum Juve dengan warna tersebut. Ia lantas menghubungi temannya yang tinggal di Nottingham, yang menjadi supporter Notts County, untuk mengirim kostum belang hitam-putih ke Turin, dan temannya tersebut menyanggupinya. Juve have worn the shirts ever since, considering the colors to be aggressive and powerful.

Logo resmi Juventus Football Club telah mengalami berbagai perubahan dan modifikasi sejak tahun 1920. Modifikasi terakhir adalah pada musim 2004-05. Dimana saat itu mereka mengubah logo menjadi oval, dengan lima garis vertical, dan banteng yang dibentuk dalam sebuah siluet. Dahulu sebelum musim 2004-05, Juve memiliki sebuah symbol berwarna biru (yang merupakan symbol lain dari kota Turin). Selain itu ditambahkan juga dua bintang yang menggambarkan mereka sebagai satu-satunya klub yang mampu memenagi gelar Serie-A 20 kali. Sementara di era 1980-an, logo Juve lebih banyak dihiasi dengan siluet seekor zebra, menggambarkan mereka sebagai tim zebra kuat di Serie-A.

Dalam perjalanan sejarahnya, Juve telah memiliki beberapa nama julukan, la Vecchia Signora (the Old Lady dalam bahasa Inggris atau “si Nyonya Tua” dalam bahasa Indonesia) merupakan salah satu contoh. Kata “old” (tua) merupakan bagian dari nama Juventus, yang berarti “youth” (muda) dalam Latin. Nama ini diambil dari usia para pemain Juventus yang muda-muda di era 1930-an. Nama “lady” (nyonya) merupakan bagian dari sebutan para tifoso ketika memanggil Juve sebelum era 1930-an. Klub ini juga mendapat julukan la Fidanzata d’Italia (the Girlfriend of Italy dalam bahasa Inggris atau “Pacar Italia” dalam bahasa Indonesia), karena selama beberapa tahun, Juve selalu memasok pemain baru dari daerah selatan Itala seperti dari Naples atau Palermo, dimana selain bermain sebagai pesepakbola, mereka juga bekerja untuk FIAT sejak awal 1930-an. Nama lain Juve adalah: I Bianconeri (the black-and-whites, atau Si Belang) dan Le Zebre (the zebras, atau Si Zebra) yang merujuk pada warna kostum Juventus.

Stadion

Setelah dua musim perdana mereka (1897 dan 1898), dimana Juve bermain di Parco del Valentino dan Parco Cittadella, pertandingan-pertandingan selanjutnya di gelar di Piazza d’Armi Stadium sampai 1908, kecuali di 1905 saat nama Scudetto diperkenalkan untuk pertama kali, dan di di 1906, dimana Juve bermain di Corso Re Umberto.

Dari 1909 sampai 1922, Juve bermain di Corso Sebastopoli Camp, dan selanjutnya mereka pindah ke Corso Marsiglia Camp dimana mereka bertahan sampai 1933, dan memenangi empat gelar liga. Di akhir 1933 mereka bermain di Stadio Mussolini yang disiapkan untuk Piala Dunia 1934. Setelah PDII, stadion tersebut berganti nama menjadi Stadio Comunale Vittorio Pozzo. Juventus memainkan pertandingan kandangnya di sana selama 57 tahun dengan total pertandingan sebanyak 890 kali. Sampai akhir Juli 2003 tempat tersebut masih dipakai sebagai sempat latihan Juve yang resmi.

Dari tahun 1990 sampai akhir musim 2005-06, Juve menggunakan Stadio Delle Alpi, sebagai kandang mereka yang aslinya dibangun untuk Piala Dunia 1990, sesekali Juve juga menggunakan stadion lain seperti Renzo Barbera di Palermo, Dino Manuzzi di Cesena dan San Siro at Milan.

Stadion Delle Alpi

Agustus 2006 Juve kembali bermain di Stadio Comunale, yang sekarang dikenal dengan nama Stadio Olimpico, setelah Stadio Delle Alpi dipakai dan kemudian direnovasi untuk Olimpiade Musim Dingin Turin 2006.

Pada November 2008 Juventus mengumumkan bahwa mereka akan menginvestasikan dana sebesar €100 juta untuk membangun stadion baru di bekas lahan Stadion Delle Alpi. Berbeda dengan Delle Alpi, stadion baru Juve ini tidak menyertakan lintasan lari, dan jarak antara penonton dengan lapangan hanya 8,5 meter saja, mirip dengan mayoritas stadion di Inggris, dimana kapasitasnya diperkirakan akan berisi 41.000 kursi. Pekerjaan ini dimulai pada musim semi 2009, dan diperkirakan akan selesai pada awal musim 2011-12.

Tifosi

 

Juventini

Juventus merupakan salah satu klub sepakbola dengan jumlah pendukung terbesar di Italia, dengan jumlah tifoso hampir 12 juta orang (32.5% dari total tifosi bola di Italia), merujuk pada penelitian yang dilakukan pada Agustus 2008 oleh harian La Repubblica, dan merupakan salah satu klub dengan jumlah supporter terbesar di dunia, dengan jumlah fans hampir 170 juta orang (43 juta orang di Eropa), selebihnya ada di Mediterrania, yang kebanyakkan diisi oleh imigran Italia. Tim Turin ini juga mempunyai fans club yang cukup besar di seluruh dunia, salah satunya di Indonesia melalui Juventini Indonesia.

Tiket-tiket pertandingan kandang Juve memang tidak selalu habis setiap kali Juve bertanding di Serie-A atau Eropa, kebanyakkan fans Juve di Turin mendukung tim kesayangan mereka lewat bar-bar atau restoran. Di luar Italia, kekuatan supporter Juventus sangatlah kuat. Juve juga sangat popular di Italia Utara dan Pulau Sisilia, dan menjadi kekuatan besar saat Juve bertanding tandang, lebih dibandingkan para pendukung di Turin sendiri.

Prestasi

Pada akhir dari setiap musim kompetisi, tim yang berhasil menduduki posisi pertama pada liga Italia Seri A memenangkan gelar Scudetto, sebuha symbol yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1924, dikenakan pada seragam pada musim yang selanjutnya, yang menandakan bahwa tim tersebut adalah sang juara. Pemenang juga akan diberikan penghargaan berupa Italian Champions Cup, piala liga yang resmi mulai ada sejak musim kompetisi 1960-61, dan tim juara akan memperoleh akses untuk mengikuti kompetisi Champions League bersama dengan timyang berhasil berada di posisi kedua klasemen.
1905          1925/1926  1930/1931  1931/1932  1932/1933  1933/1934  1934/1935
1949/1950  1951/1952  1957/1958  1959/1960  1960/1961  1966/1967  1971/1972
1972/1973  1974/1975  1976/1977  1977/1978  1980/1981  1981/1982  1983/1984
1985/1986  1994/1995  1996/1997  1997/1998  2001/2002  2002/2003  2004/2005
2005/2006
UEFA Champions League, dahulu dikenal dengan nama European Cup dan biasanya disingkat menjadi Champions League, ini adalah turnamen sepakbola terbaik di Eropa dan kompetisi antar klub terbaik di dunia, baik dalam hal prestise dan juga aspek bisnis.
1984/1985  1995/1996
Piala Winners’ Cup ditujukan bagi tim tim yang berhasil menjuarai piala nasional pada negaranya. Pada tahun 1999, turnamen ini telah ditiadakan dan sejak saat itu, para pemenang dari piala nasional di tiap-tiap Negara berhak untuk berkompetisi di UEFA Cup.
1983/1984
Italian Football Cup adalah Piala Nasional untuk Negara Italia, diadakan setiap tahun dibawah naungan yurisdiksi dari FIFC (Federasi Sepakbola Italia), yang dikelola oleh Lega Calcio (Liga Sepakbola).
1937/1938  1941/1942  1958/1959  1959/1960  1964/1965  1978/1979  1982/1983
1989/1990  1994/1995
UEFA Cup ialah sebuah turnamen sepakbola eropa yang ddimulai pada musim kompetisi 1971/72, menggantikan kejuaraan lama yang diadakan oleh UEFA, kompetisi ini ditujukan bagi para tim dengan posisi klasemen berada di bawah tim yang lolos pada kuota Champions League di negaranya masing-masing.
1976/1977  1989/1990  1992/1993
Intercontinental Cup, yang juga biasa dikenal dengan Piala Eropa-America Selatan, merupakan sebuah kompetisi tahunan yang diselenggarakan diantara tahun 1960 dan 2004, dengan mempertemukan juara dari European Cup, yang sekarang dikenal dengan UEFA Champions League, dengan juara dari Copa Libertadores yang diselenggarakan di Amerika Selatan.
1985           1996
InterToto adalah kompetisi turnamen musim panas yang diadakan oleh UEFA dan ditujukan bagi para tim yang menyudahi musim kompetisi dengan berada di posisi di bawah para tim yang memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam UEFACup.
1999
Italian Super Cup adalah sebuah kompetisi dengan satu pertandingan yang mempertemukan juara italia, yaitu pemenang dari Liga Italia Seri A, dan pemenang kompetisi Piala Italia.
1995           1997           2002           2003
European Super Cup, atau UEFA Super Cup, adalah sebuah piala sepakbola Eropa yang dianugerahkan pada Champions League dan edisi terakhir dari UEFA Cup. Pertandingan akan diselenggarakan pada ibukota dari Monaco pada akhir bulan Agustus dan sebagai pertanda dimulainya musim kompetisi sepakbola benua Eropa terbaru.
1985           1996

Skuad

Tim utama, terhitung tanggal 1 September 2009.

No. Posisi Nama pemain
1 Flag  of Italy.svg GK Gianluigi Buffon (wakil kapten)
2 Flag of Uruguay.svg DF Martín Cáceres (meminjam dari FC Barcelona)
3 Flag  of Italy.svg DF Giorgio Chiellini
4 Flag  of Brazil.svg MF Felipe Melo
5 Flag  of Italy.svg DF Fabio Cannavaro
6 Flag  of Italy.svg DF Fabio Grosso
7 Flag of Bosnia and Herzegovina.svg MF Hasan Salihamidžić
8 Flag  of Italy.svg MF Claudio Marchisio
9 Flag  of Italy.svg FW Vincenzo Iaquinta
10 Flag  of Italy.svg FW Alessandro Del Piero (Kapten)
11 Flag  of Brazil.svg FW Amauri
12 Flag  of Italy.svg GK Antonio Chimenti
13 Flag of Austria.svg GK Alex Manninger
15 Flag of France.svg DF Jonathan Zebina
No. Posisi Nama pemain
16 Flag  of Italy.svg MF Mauro Camoranesi
17 Flag of France.svg FW David Trézéguet
18 Flag of Denmark.svg MF Christian Poulsen
19 Flag  of Italy.svg DF Cristian Molinaro
20 Flag  of Italy.svg MF Sebastian Giovinco
21 Flag of  the Czech Republic.svg DF Zdeněk Grygera
22 Flag of  Mali.svg MF Mohamed Sissoko
23 Flag  of Italy.svg DF Lorenzo Ariaudo
28 Flag  of Brazil.svg MF Diego
29 Flag  of Italy.svg DF Paolo De Ceglie
30 Flag of Portugal.svg MF Tiago
31 Flag of Bulgaria.svg GK Mario Kirev
33 Flag  of Italy.svg DF Nicola Legrottaglie
Categories: Fanatisme
  1. 17/12/2010 at 2:28 am

    I’m Juventino!

  2. 17/12/2010 at 7:20 am

    You have chosen the right football club to love.. ^^)
    Forza Juve!!

  1. 03/01/2011 at 4:44 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: